home

Sunday Cool Picture





Bookmark and Share


Preview L’ATLAS “Morphologie” Solo Exhibit at David Bloch Gallery




French Artist L’Atlas has an upcoming show at David Bloch Gallery titled “Morphologie”. Here are some preview pictures courtesy of the gallery. L’Atlas is an outstanding and important artist of our culture and generation. His work has origins in graffiti, yet has grown into so much more. Keeping in line with tradition L’Atlas still uses his name and the letterform as a basis for his geometric abstract work. You cannot pinpoint, or put L’Atlas’ work into one genre. His work is influenced by many different subjects, yet it still manages to have its own identity. We look forward to seeing and writing a full review of the upcoming show. Till then here is a brief summary of the exhibit.

GF

“The exhibition is called “Morphologie”.
The beginning point of each artwork is a word, generally the name of the
artist himself. It’s written with a regular and geometric typography specific
to the artist, but often encrypted to become unreadable. Here, for the first
time, the letters stand out and hug each other and then a third dimension
appears.
Writing is certainly the basis of the work of L’Atlas, but, in some respects,
it’s only an excuse to approach the purest geometric abstraction. That’s
what this exhibition tends”



Bookmark and Share


AEROSOUL INDONESIA (support nippon)























tuyuloveme/racon3/nick23/oyster/oaker/muck/bigshow/nside193/vaynthree/trash


Bookmark and Share


Pengawasan Reklame Lemah



Kamis, 22 September 2011 | 03:05 WIB
Jakarta, Kompas – Amburadulnya tata kelola media luar ruang di Jakarta disebabkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus-menerus membiarkan kondisi ini. Salah satu buktinya, Pemprov DKI lalai melengkapi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2004 tentang penyelenggaraan reklame dengan petunjuk pelaksanaan maupun peraturan gubernur.
Hal ini disampaikan pengamat perkotaan Yayat Supriatna dalam seminar ”Tata Kelola Media Luar Griya” di Jakarta. ”Ada beberapa kelalaian yang dilakukan Pemprov DKI. Pengawasan terhadap reklame-reklame yang telah habis masa berlakunya tidak berjalan dengan benar,” kata Yayat.
Dalam memasang baliho reklame itu, Pemprov DKI juga melakukan pembiaran dengan tidak mengikuti kaidah-kaidah tata ruang kota.
”Selama ini, pendekatan yang dilakukan lebih mengedepankan izin sebagai alat pendapatan, bukan izin sebagai alat pengendali,” ujar Yayat.
Fauzi mengakui
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengakui adanya ketidakberesan dalam masalah aturan hukum untuk reklame.
”Praktik-praktik korupsi dan kolusi yang ada di reklame itu karena peraturan yang ada masih banyak bolongnya. Itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Fauzi, Rabu (21/9).
Untuk mengatasi masalah tersebut, saat ini Pemprov DKI sedang menyusun rancangan peraturan daerah (perda) yang baru dengan aturan yang lebih ketat dan menutup semua kemungkinan yang bisa dipakai untuk praktik-praktik yang tidak baik.
”Untuk internal, saya akan mempercepat terwujudnya layanan satu pintu untuk perizinan. Dengan demikian, layanan yang cepat dan transparan akan cepat dinikmati oleh masyarakat,” kata Fauzi.
Peta iklan abu-abu
Yayat menambahkan, salah satu cara untuk lebih transparan kepada masyarakat, Pemprov DKI seharusnya bisa menempatkan titik-titik papan reklame yang diizinkan dalam peta masterplan yang memang bisa diakses warga.
Menurut Nuke Mayasaphira, Ketua Asosiasi Media Luar Ruang Indonesia (AMLI) DKI Jakarta, pengusaha media luar ruang sering kali kesulitan mencari kejelasan titik-titik yang boleh dan tidak boleh karena tidak pernah ada aturan yang jelas.
”Seharusnya pemerintah mempunyai peta yang jelas, daerah mana saja yang boleh ada reklame, daerah mana yang ketat kendali, dan daerah mana saja yang tidak boleh. Kalau sekarang yang terjadi, lebih banyak daerah yang abu-abu,” kata Nuke.
Dengan aturan yang tidak jelas itu, kata Nuke, akhirnya membuat pengusaha jadi pelanggar.
”Secara bisnis tentu saja tidak menguntungkan karena menimbulkan biaya sangat tinggi untuk pelanggaran itu,” ujar Nuke.
Petugas kewalahan
Kepala Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta Iwan Setiawandi mengakui, penertiban papan reklame masih sangat lemah mengingat jumlah sumber daya manusia yang tidak cukup.
”Jumlah titik yang harus diawasi sangat banyak, sementara petugas di lapangan tidak banyak. Di titik ini ditertibkan, di titik lain sudah muncul lagi yang tidak tertib,” kata Iwan.
Selain reklame yang tidak tertib, sering muncul juga spanduk partai politik dan poster yang menjadi polusi visual kota.
Yayat Supriatna mengatakan, seharusnya reklame tidak dipandang sebagai sebuah tambahan pendapatan, tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh dan terintegrasi dengan desain lingkungan. Perlu juga dipertimbangkan keselamatan, seperti tidak memasang papan reklame menjorok di jalan sehingga membahayakan pengendara.
”Ada pengusaha yang memasang papan monitor yang menyala terang dengan posisi terlalu rendah. Sinar dari papan monitor itu membahayakan pengendara karena terlalu silau,” ujarnya.
Menolak
Di tempat lain, sejumlah warga RT 9 RW 9, Grogol, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, menolak pemasangan papan iklan luar ruang berukuran 8 x 16 meter di Jalan Semeru I Nomor 2, Kampung Kramat Bahagia, Grogol Petamburan.
”Sejak awal Juni lalu bagian depan rumah di sebelah rumah ibu saya, Romlah (66), digali para pekerja untuk tiang papan reklame luar ruang. Ibu saya keberatan karena beliau melihat kerabatnya di kampung yang tinggal di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, nyaris tewas tertimpa papan reklame. Korban koma beberapa hari. Ibu saya jadi traumatis,” kata Jelisah Wijaya (49), putri Romlah.
Jelisah Wijaya juga menunjukkan surat hasil rapat RW yang ditandatangani oleh Ketua RW 9 Zainudin M Nur dan Sekretaris I RW 9 M Chalis Damrah. Rapat menegaskan, warga menolak berdirinya papan reklame tersebut.
(WIN/ARN)
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/

 

#NEWS #RESPECTA 2011



Bookmark and Share


How & Nosm “Heartship” Mural and Upcoming Show at Known Gallery “Achtung”




How and Nosm touched down in LA recently as they get ready for their upcoming exhibition at Known Gallery titled “Achtung”. Their first line of business was to paint an enormous wall in Los Angeles as part of the LA Freewalls Project. How & Nosm are no strangers to large scale murals so it was exciting to watch them tackle yet another monster wall. With this new mural installation How & Nosm  show us not only what is capable from our current graffiti artists, but it also shows us how far we have come as a culture. When I look back over the last 20 years I cant remember a time when we had such free reign across the globe on so many monumental walls. It is great to see artists like How & Nosm getting the opportunity to show what is possible. We all know the problems with Los Angeles and its current stance on murals. See Sabers Petition here. It is great that there are still bright spots and organizations like this that are actively securing walls for artists.

Known Gallery seems to be on a roll,  once again they are able bring an important show “Achtung” to Los Angeles. There are not many artists that can go from painting a multi story mural, to painting a canvas and not miss a beat. Most artists have their strengths in one, over the other. How & Nosm fortunately for us do not. Their gallery work is just as important and intense as any mural they paint. Coming from a Graffiti background How & Nosm are able to contribute to the Art world in the same manner they have contributed to ours. By creating  groundbreaking art there is no line between either. We cant wait to see the final opening pictures. We know that it will be impressive and event not to be missed. So Make sure you dont miss it. If you are anywhere near Los Angeles Oct 15th do your self a favor and go.

GF



Bookmark and Share


Art is not a crime, but Los Angeles would like you to think it is




Saber’s typographic, aerial attack on downtown Los Angeles this past Monday got everyone’s attention. His message was clear, end the mural moratorium. The city’s municipal code defines art murals as signage and the permitting process is deeply broken. Art is not a crime, but Los Angeles would like you to think it is.
“These taggers are not misguided kids,” Detective Sergeant Ron Marquez said in a prepared statement, “These suspects are in their 20s and 30s. They are adults who pass themselves off as artists, when in reality, they’re criminals…” (from the Pasadena Star News)

Saber first began thinking about this project back in April, shortly after the opening of MOCA’s Art in the Streets show. Desperate to make a high profile example of someone, the police used Revok’s failure to pay a $3,764.97 fine to hold him on $320,000 bail, and sentenced him to 180 days in jail. The idea of skywriting ‘#Free Revok’ over city hall held some real appeal (especially for those who value a well hit up heavens). It had been clear for months leading up to the exhibition that some in the city were not happy that an important LA art museum was treating graffiti art with seriousness and respect. Homes and offices have been raided, and the words “gang injunction” thrown around. The narrative of the “tag-banger” which tries to blur the line between graffiti artist and gang member has been pushed in LA for years. But that story has a problem; people on the street can tell the difference between the two. Just ask one of the 200,000 people who stood on line at MoCA this summer.

While there are several sources of hostility to public art in Los Angeles, Saber wanted to take a real, specific action. So, just as the letters hit the sky, Saber launched a petition to change the Los Angeles municipal code. So far over 1400 people have signed the petition to end the mural moratorium. If you believe that “murals are not signs and art is not a crime,” please join them. Click here to #EndMuralMoratorium.

By: Piper Wynn Severance, Saberone Studio

Photos courtesy: saberone.com

Petitions by Change.org|Start a Petition »



Bookmark and Share


Memperingati Hari Kemerdekaan-RI dengan cara STREET ART



Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66 tahun dengan cara berbeda

Peringatan Hari kemerdekaan Indonesia yang ke 66 tahun, semakin dimaknai  berbeda oleh generasi muda kekinian.  Perayaan hari kemerdekaan di tahun 2011, tepatnya  di tengah suasana bulan ramadhan memang terlihat berbeda.  Ada berbagai macam cara memperingati  17an, baik yang wajib dilakukan atas nama institusi negara, maupun perayaan yang dilakukan atas inisiatif warga .

Perayaan kemerdekaan HUT RI yang ke-66Th tahun 2011 kurang meriah dibandingkan 2 tahun yang lalu, itu bisa kita lihat bendera dan umbul-umbul merah putih yang biasa terpasang di depan rumah warga semakin sedikit terpasang.

Gapura  17an yang biasanya dirancang dan dibangun secara gotong-royong oleh warga juga tidak saya jumpai lagi (khususnya di Jakarta). Satu lagi inisiatif warga yang tidak terdengar lagi kemeriahan nya yaitu lomba 17an. Tradisi ini biasanya dijadikan ajang silaturahmi warga dan obat manjur stres ditengah aktifitas warga, misalnya mengingatkan saya & membuat tersenyum geli jika mengingat  lomba ibu-ibu menangkap belut, lomba main bola bapa-bapak dengan berdandan ala ibu-ibu, lomba panjat pinang …duh ngomongin lomba panjat pinang jadi inget nasib tukang jualan pohon pinang yang menunggu rejeki setahun sekali,  jadi sedih kemanakah mereka dan beralih jualan apa yah?

Memang generasi sekarang berbeda dengan generasi pejuang kemerdekaan yang terjun langsung berjuang mengusir penjajah yang mereka lawan jelas Bangsa asing yang menjajah bangsa ini.

Seperti kata Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Generasi sekarang tentu sangat berbeda memaknai arti kemerdekaan  dengan konteks situasi  bangsa saat ini . Salah satunya yang dilakukan teman-teman street art  memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia  dengan cara berbeda yaitu dengan cara STREET ART di Galeri Jalanan Dukuh Atas – Jakarta Pusat .

Memperingati Hari Kemerdekaan-RI dengan cara “STREET ART”

Lokasi : Galeri Jalanan Dukuh Atas – Jakarta Pusat

Photos by : RHARHARHA

#RESPECTA 2011 #17an



Bookmark and Share


GANG FEST#1 (ROJALI) GEMBEL URBAN PRESENT 2011





Bookmark and Share


Plaza Desain 2011




Plaza Desain adalah sebuah acara tahunan yang diadakan oleh jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara. Acara ini berisikan pameran karya desain, diikuti seminar dan workshop yang diadakan selama 5 hari. Pembukaan Plaza Desain sendiri diselenggarakan pada tanggal 20 Juli 2011 pukul 17.00 di Galeri Cipta III, Jl. Cikini Raya no. 73,  Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, diikuti oleh pameran dan seminar tanggal 21 Juli 2011 – penutupannya tanggal 24 Juli 2011 yang berisi hiburan menarik seperti band dan mural Performance.

Konsep Plaza Desain kali ini adalah lingkaran, dengan judul tema “in:spire”. In:spire sendiri terdiri dari 2 kata yaitu in dan spire. Spire diambil dari bahasa Yunani sphaira yang merupakan proyeksi bentuk lingkaran kebidang 3 dimensi. Lingkaran itu sendiri adalah simbol yang sudah digunakan sejak jaman dulu untukmenggambarkansesuatu yang tidak mempunyai awal dan akhir atau sesuatu yang sempurna, sedangkan kata ‘in’ diserap dari bahasa Inggris yang berarti “di dalam”. Sehingga “In:Spire” yang dipilih sebagai nama Plaza Desain 2011 memilikiarti di dalam sebuah lingkaran, dimana kita selaku desainer grafis berada di dalam lingkaran tersebut dan selalu mengejar kesempurnaan dalam sebuah karya, sehingga dapat menjadi panutan atau inspirasi.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Plaza Desain tahun ini diisi dengan  serangkaian acara menarik, salah satunya adalah seminar-seminar dari pembicara ternama di bidang desain, seperti Mayumi Haryoto, seorang illustrator handal; AndiRharharha Street Artist dan Social Activist; Nus Salomo, seorang multitalented artist yang menguasai seni patung, lukisan acrylic dan watercolor, hingga digital painting; Caravan Studio yang membuat karya seni seperti komik, ilustrasi, concept art dan toy design; Daniel Surya yang akan membawakan tema “Building Powerful Indonesia Brand”, GLXY Imagilangit yang ahli dalam bidang space painting; Nina Nikicio, seorang fashion designer ternama di Indonesia, danChristo Wahyudi yang akan membawakan seminar “Modular Scaling” dalam tipografi.

Selama 5 hari, Plaza Desain akan diisi oleh pameran karya desain darimahasiswa/i DKV Binus itu sendiri seperti karya akademik, karya Pra-Tugas Akhir, maupun karya bebas. Selain itu, hiburan yang ditawarkan oleh Plaza Desain tahun ini tak kalah menariknya, terdapat performance dari band-band indie yang terkemuka di Indonesia seperti Jude yang bergenre pop namun dengan alunan musik yang agak keras sehingga tidak terdengar seperti pop biasa; ­The Banery yang menggabungkan beberapa genre music dari tiap personilnya seperti Rock and Roll, Opera, Alternative, dan British Pop; dan band-band lain seperti Fairy Odd, Bhava, dan Play-Mates. Tidak ketinggalan sebuah Mural performance oleh Popo yang akan tampil pada hari penutupannya, tanggal 24 Juli 2011 mulai pukul 18.30.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat membuka situs: http://plazadesaininspire.wordpress.com, atau follow twitter kami @plazadesain2011. Untuk pembelian tiket seminar, hubungi contact person kami Niscaya 0856 1222 316; Evelyn 0857 1035 6996; Ines 0856 979 54 212.



Bookmark and Share


GEMBEL URBAN-ALA BLACKBOOK SURABAYA





Bookmark and Share


freestyling



bagnolet, paris – france

click for bigger size



Bookmark and Share


Mr. Cute !







Bookmark and Share


CEMANI





Bookmark and Share


Wall Lords Indonesia 2011: Special Guest



Photobucket
Guess who's comin to town? The amazing Does from Loveletters (Netherlands). yeah he'll be doin a live painting session at Wall lords Indonesia 2011 this July 2nd. Be there! It's gonna be so awesome!


Bookmark and Share


Invasi Konspirasi Bass (MASSIVE DRUM N BASS IN TOWN )



Invasi Konspirasi bass – MASSIVE DRUM N BASS IN TOWN
Arahan Musik oleh :
BIMA G (Crime Scene)
LGB (Crime Scene)
ARBWORK (Crime Scene)
DASA (BarBar)
DTX (Junglizta_BDG )

Instalasi Proyeksi Oleh :
CSB (HAMMERANDMACE)

Instalasi Lakban :

RHARHARHA Tape Art

28 Juni 2011
Mulai 22.00 Wib

D’barons
jl. iskandarsyah raya 1 (hotel ambhara)
Jakarta, Indonesia

 



Bookmark and Share


Pameran Seni Rupa DIPERKOSA KOTA



ruangrupa mempersembahkan

Pameran Seni Rupa
DIPERKOSA KOTA

interactive, photography, installation, object, mixed media


Angga Cipta – Dhemas Reviyanto – Ficky Fahreza – Komunitas Pecinta Kertas – Syaiful Ardianto

Kurator: Indra Ameng
Pembukaan                : Jum’at, 10 Juni 2011 / 19.00 – selesai

Terbuka untuk umum

Dimeriahkan oleh    : Sulap Urban oleh Kiswinar
Pameran                    : 10 – 18 Juni 2011 (buka Senin – Sabtu pukul 11.00 – 21.00)

RURU Gallery
ruangrupa
Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6, Jakarta Selatan 12820
t/f: +62 21 8304220
e-mail: info@ruangrupa.org
www.ruangrupa.org

Ke 4 seniman dan 1 kelompok seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini, adalah para mahasiswa yang karyanya mendapat penghargaan sebagai 5 karya terbaik pada kegiatan pameran JAKARTA 32°C *, 2010. Sebagai kelanjutan dari proyek seni rupa JAKARTA 32°C, ruangrupa mengundang seniman-seniman muda ini untuk berpameran dengan membuat karya-karya baru yang mengangkat masalah-masalah keseharian masyarakat urban yang inspirasinya diambil dari fenomena terkini kota Jakarta.

Dalam mempersiapkan pameran ini, ruangrupa mengadakan 6 kali pertemuan bersama seniman – seniman muda ini dalam mengembangkan ide karya dari nol dan bagaimana mempresentasikannya menjadi sebuah pameran bersama. Judul pameran DIPERKOSA KOTA – didapatkan dari hasil pertukaran ide antar seniman dan menjadi “perasaan” juga “perspektif” bersama dalam melihat kehidupan kota Jakarta masa kini yang semakin semrawut, brutal nan tidak manusiawi bagi warganya.

Setiap seniman dalam pameran ini memiliki strategi visual dan kecenderungan penggunaan medium yang spesifik dalam karyanya. Angga Cipta, akan membuat sebuah karya interaktif untuk mengajak penonton membuat peta kemacetan kota Jakarta. Dhemas Reviyanto, lewat karya fotografinya akan memperlihatkan bagaimana motor yang disebutnya sebagai “kuda besi” dimodifikasi dan “diperah” sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan konsumtif warga kota, Ficky Fahrezi, mencoba merekam percakapan remeh-temeh sehari-hari warga kota dan menampilkannya secara humoris dalam karya mix media. Komunitas Pecinta Kertas, membuat maket kota dari bahan kardus bekas yang bersifat interaktif untuk mengajak penonton bermain-main menata ulang kota. Syaiful Ardianto, sebagai mahasiswa grafis murni akan membuat kampanye satir lewat medium seni cetak tentang anjuran untuk terus lanjutkan mendukung dan membiarkan kehancuran kota Jakarta.

* Jakarta 32°C adalah sebuah forum antar-mahasiswa di Jakarta dan pameran besar dua tahunan bagi karya-karya visual mahasiswa di Jakarta. Diadakan sejak 2004, Jakarta 32°C bertujuan untuk menumbuhkan dialog kritis para mahasiswa serta memperkenalkan karya-karya terbaik mereka kepada publik yang lebih luas. Jakarta 32°C memiliki program pameran, diskusi, lokakarya, pemutaran film, pertunjukkan musik dan bazar. Sejak 2008, Jakarta 32°C menganugerahkan lima penghargaan khusus untuk karya terbaik yang dipamerkan. Acara ini terbuka bagi seluruh mahasiswa di Jakarta.

 

# RESPECTA News Event 2011

 

 



Bookmark and Share


YZRL DLLLAJ SURABAYA






Bookmark and Share


Yang Muda Yang Berbahaya



tak perlu main sinetron untuk terlihat,dan tak perlu ikut contoh menejemen untuk menjadi contoh, sekarang ini jakarta telah menjadi tempat saling bertarung untuk menjadi kan individu yang merdeka 100% seperti percepatan waktu dan di waktu yang super sibuk jakarta hingga membuat setidanya 40 persen sampai 70 persen kehidupan kita di habiskan d jalan apa lagi di kabarkan jakarta beberapa tahun kedepan akan menjadi kota yang super macet oleh pertumbuhan kendaran yang super cepat bayangkan 300ribu saja bisa membawa pulang sebuah kendaran sepeda motor dengan model terbaru dilengkapi dengan helem standar nasional indonesia,dan diluar dari itu bebrapa orang atau kelompok mencoba menampilkan bentuk dari apa yang di pikirkan entah itu dari trend atau apa tapi saya rasa kegiatan itu telah membuat sejarah bagi para pelaku street art beserta kroni-kroninya, bebrapa tahun silam saya dapat mengenal hampir teman-teman yang berkarya di ruang publik, dan sekarang saya tak tau dan tak begitu hafal siapa saja yang berkarya di ruang publik karena sekarang ratusan orang sudah mulai muncul ke jalan dan banyak dari mereka yang telah menamkan daya ingat visual ke pada publik,dan sudah banyak pula yang di apresiasikan dengan baik oleh publik itu sendiri, Sekitar tahun 2007 ketika jakarta sedang me wabahnya graffiti dari kantin-kanti sekolah menengah, gank-gank di pinggir jalan sampai ketempat temat paling strategis di Jakarta pun tak luput dari graffiti dan kroni-kroninya. Dan kini beberapa dari mereka telah menjadi idola-idola  baru dan berbeda dari monitor bewarna 14 inc, dan siap menggerayangi jiwa-jiwa muda yang merindukan suatu hal yang baru.


BujanganUrban


Bookmark and Share


STREET ART SOUTH ITALY presenta >>POSTCARD – free mail art



Post CardPOSTCARD
free mail art
is a street art contest on postcard, open to whoever wants to join, seeking a strong participation on national and international basis, to carry on the initial project of communication//sharing of knowledge and contamination.
The participants are required to send at least one or more postcards of any color and shape, leaving free interpretation to the artist, with a stamp and a message on each, to our address.
The intent is to communicate and share the various cultural differences that, in spite of their diversity, are the fruit of human culture altogether.
Art that moves by sharing each own’s cultures. With a simple postcard, every artist can leave his/her own message, crossing the imaginary borders that divide us.
.
The postcards must be sent within and not beyond the 15th of june 2011.
The expo will start at the beginning of June, the exact date will be published soon.
The staff taking care of the event extends its thanks and will be waiting for confirmation on the participation.

Further details will be given after confirmation.
TO GET INFOS AND TO SIGN IN
streetartsouthitaly@libero.it – Tel 329/0604450
aniakitlas@wp.p

SEND AT THE FOLLOWING ADDRESS
francesco luceri
via corsica N°54
73010 san donato di lecce
ITALY

I remind you that the postcard is 10×15 …….
http://streetartsouthitaly.blogspot.com/
http://www.flickr.com/groups/streetartsouthitalycollective/
http://www.facebook.com/group.php?gid=154483944855

 

#RESPECTA POST CARD PROJECT >CONNEXTION<STREET ART SOUTH ITALY PRESENTA #RESPECTA2011 connextion MEDIA LEGAL



Bookmark and Share


BERCUMBU DENGAN TRIPLEK oleh ISROL MEDIA LEGAL



DGTMB #RESPECTA CONNEXTION YK



Bookmark and Share


Forum Statistics

    Total number of registered users: 20,113
    Newest registered user: jen01mcbride
    Total number of topics: 343
    Total number of posts: 25,755